favorit cartoon

favorit cartoon
permen itu penuh rasa...

Minggu, 20 Oktober 2013

Tentang dua orang yang kebetulan.

Malam sudah semakin tua,beberapa jam lagi pagi yang dini akan segera muncul menggantikannya. mataku merekam sisi-sisi ruangan yang remang berhias lampu warna-warni yang berkedip-kedip di sepanjang musik berderai. Tumben hari ini pengunjung bar tak ramai seperti biasanya.
“ah sial!! aku hanya mendapat satu pelanggan” keluh perempuan disampingku seraya menggesek-gesekan rupiah yang menempel di sela jari-jarinya yang kurus dan panjang. “bagaimana denganmu? Kau dapat berapa hari ini?” tanyanya setelah menghitung rupiahnya.
Dengan malas-malasan aku menjawab “hanya dua” itupun tipsnya tidak besar,sudah tua pula. aku menggerutu.
“ya lumayanlah dari pada aku” keluhnya lagi, setelah menghembuskan asap rokoknya yang membentuk huruf O. Namanya Sela,ia adalah teman satu profesiku. Diantara teman-temanku yang lain ,kuakui wajah Sela lah yang paling beruntung. Bibir tipis dan bola matanya yang sedikit menyipit, mampu memancarkan aura sensasional pada setiap orang yang memandangnya. Hanya saja hari ini dia memang kurang beruntung. Ya,untuk satu pelanggan,ia jelas kurang beruntung. Kecuali ia dapat tips besar.

***

Ah, kota ini panas sekali. kalau aku berpakaian kaos lengan buntung pasti kulitku akan terbakar. Kalau seperti itu,pelangganku pasti akan merasa kurang nyaman. Oke ,kau tidak akan kupakai untuk hari ini. aku mencoba T-shirt Giordanoku yang berlengan panjang. dan...Shit rasanya sumuk sekali. ah, sungguh jakarta memanglah kota yang serba salah.
dari seberang jalan, teman-temanku melambaikan tangannya kearahku. Melempar kode bahwa mereka telah lebih dulu sampai dan sudah mengambil tempat, tepat di sudut ruangan cafe yang berdesain klasik. “hay fani..kami disini” Oh... Sela si brengsek itu sudah mendapat mangsa rupanya. Betul-betul sial. Aku kesiangan. Ternyata benar juga kata pepatah “kalau bangun terlalu siang, rezeki akan di patok ayam” dan hari ini sudah jelas. si Sela lah ayamnya. Dasar ayam kampus!
“kau mau pesan apa?” tanya Rika. teman yang tentunya juga satu profesi denganku. Seperti biasa,Ia menautkan dagunya tepat di bahuku. Ah dia memang selalu percis dengan lesbian.
“coffe delight sama pancake durian sepertinya serasi.” Kataku padanya,sekaligus pada waiters. Waiters itu melengos pergi setelah menunjukan senyumnya yang tampak gigi.
“jadi bagaimana nanti malam?” kata Sela yang menautkan bokongnya di atas sepasang paha mangsa barunya itu. ia terlihat sedikit pamer. Dan ya kuakui mangsanya kali ini memang cukup menarik daripada sebelumnya. Aku bisa melihat jenis kunci mobilnya yang berputar-putar di jari telunjuk Sela. Sepertinya sejenis BMW. Sudah ku bilang,wanita brengsek ini memang berniat pamer.
“ya jelas jadilah. Dan seperti biasa yang kalah harus membayar seluruh perlengkapan kita untuk liburan ke bali” jelas Soffi ,teman yang masih satu profesi denganku juga.
Sela menyelesaikan makanan yang ada di mulutnya “dan sudah pasti aku tidak akan berada di posisi itu” ia sangat antusias.
Dan itu berarti, kalau aku belum mendapatkan mangsa sampai malam tiba, kemungkinan besar posisi buruk itu akan mengutukku sebagai perempuan yang kurang memiliki daya tarik. Oh dewi fortuna, kumohon malam ini memihaklah padaku.

***

Suara musik bar menyentak-nyentak gendang telingaku. Memang seharusnya tak lagi menjadi masalah untuk perempuan malam sepertiku. Hanya saja kali ini hawanya berbeda. Sampai saat ini aku belum juga mendapatkan mangsa. dan jelaslah, itu membuat aku merasa sangat tersingkir. Sebenarnya tadi aku sudah mendapatkannya, tetapi sayang,bocah itu hanya bermodalkan avanza, dan aku berani bersumpah bahwa itu adalah milik orangtuanya. Dasar remaja tengil.
Sela menepuk bahuku sembari meneguk bir yang ada digenggamannya “bagaimana fa? Sepertinya taruhan kali ini kau yang kalah”
Aku mendelik ke arahnya “tunggulah,sebentar lagi juga dia datang” jawabku menampik pertanyaannya. Entah dia yang manapun aku tidak tahu. Dan yang pasti “dia” yang entah siapa itu memang harus secepatnya kutemukan. Apa jadinya kalau aku kalah taruhan nanti, bukan hanya duit yang terkuras,melainkan mukaku ini juga ikut tertindas.
“permisi,boleh aku duduk disebelahmu?” tanya seorang pria berkemeja liris yang tampak jelas beberapa langkah didepanku. Pandanganku menempel di tubuhnya, menyapunya dari atas hingga bawah. Mataku melebar,sungguh aku ini sedang mimpi atau apa. Tubuhnya sangat tegap bak seorang tentara,dagunya dipagari bulu-bulu kecil,dan bentuk mukanya sedikit kotak. Ah iya, aku ingat. ia mengingatkanku pada vokalis The Script, Danny. Kali ini Aku berani bertaruh kalau ia bukanlah asli orang Indonesia. Dari logatnya pun kurasa semua orang akan setuju padaku.
Aku memasang senyum semanis mungkin di bibirku “oh tentu, silahkan saja” teman-temanku yang keparat itu memasang senyum nakal kearahku. Beberapa dari mereka juga ada yang memasam. Bagus. mereka bisa lihat bahwa mangsaku kali ini bukan lagi sejenis lele ataupun teri. melainkan kakap merah nan besar. oh...dewi fortuna,terima kasih.
“siapa namamu?” tanyanya memulai pembicaraan.
“oh,aku fani,kau?”
“dave”
“kau sendiri saja ?”
“tidak,aku bersamamu”
“oke,itu jawaban yang tepat” ia tertawa. seketika tawaku ikut dibelakangnya. Mungkin ini yang mereka bilang tawa perkenalan.
“kau tak terlihat asli orang sini. Apa ke sok tahu-an ku ini betul?” akhirnya aku memecah rasa penasaranku.
“ya betul. Ayahku Australia”
“dan aku belum bertanya tentang itu” ia tertawa lagi, kali ini terlihat seperti ingin mengalahkan musik DJ yang kencangnya seperti memanggil minta dijamah.
“sepertinya kita harus ikut meramaikan musik ke tengah sana” ia mengulurkan tangannya padaku, dan tentu, dengan senang hati aku meraihnya.
Musik terus berdentum, semakin malam terdengar semakin bingar. Dan tiada waktu yang tidak bisa untuk dijadikan kesempatan. Dengan badan yang meliuk-liuk mengikuti irama musik,dengan sekelebat manusia yang mengimpit-ngimpit. Aku menyapu pelan belakang leher pria berdarah australia itu.
“apa kau besok punya acara?” tanyaku . bibirku tepat beberapa senti di daun telinganya. Hanya tinggal sekali dorong saja, aku yakin bisa meraihnya.
“sepertinya tidak.” Wajahnya semakin mendekat. Sepertinya umpan ku berhasil. ia mengkodeku seperti ingin.
“aku dan teman-temanku akan ke bali besok. Apa kau mau ikut?”
“itu ide yang baik.” Musik semakin membuat setiap kami larut. Botol bir dimejaku telah habis. Dan tentu saja itu bukan botol yang pertama.

***

“jadi kali ini siapa yang kalah? Kalian bisa lihat bukan, ia sangat memesona. dan ya... kalian juga bisa pastikan dari gadget-gadgetnya” aku merapikan kutek baruku. Kali ini aku memilih warna merah setelah biru yang masih berbekas di buku-buku jemariku.
“ya kali ini kau memang beruntung pelacur kecil” Sela mengakui kemenanganku. Soffi memasang muka masam. Sementara Rika memanyunkan bibirnya.
“kayanya itu dirundingkan saja nanti, ini adalah waktunya happy-happy. Dan mereka sudah menunggu kita diluar sedari tadi.” Dalih Rika.
“i love beach like a mybitch. I love you,you,you my bitches” sela tertawa girang sembari menampar pipi kami pelan. Tawanya seakan ingin memecah ombak-ombak pantai.

***

Memencar dengan masing-masing mangsa adalah trik kami. Menyantapnya sampai habis secara perlahan. Dimana bibir adalah pisau. Dan tubuh racun terakhir.
“jadi,sudah berapa jumlah mereka yang kau layani?” tanya pria berdarah australia itu seraya mengambil sebatang rokok yang ia himpit di sela-sela bibirnya.
“aku tak menghitungnya. Mungkin sekitar 15,kenapa bertanya seperti itu?”
“kau cantik,dan menarik. Harusnya kau tidak bekerja seperti ini.” ah,sungguh ini adalah gombalan lelaki pada abad 19. Dan tentu saja ini tak berpengaruh apa-apa padaku.
“dan kau tampan. Mapan pula. harusnya kau tidak duduk dengan wanita sejenis aku”
Ia memasang senyum masam “sejujurnya aku benci kata seharusnya” untuk kesekian kalinya pria itu menghembuskan asap rokok dari mulutnya “tapi,karna kau, aku menyebutnya lagi” ia tertawa di ujung kalimatnya.
“hey aku tak mempan digombal ya, sekalipun kau Adam Levine,atau Danny the script” aku menjulurkan lidah, mengejeknya.
“nampaknya kau wanita yang susah jatuh cinta ya...”
“ah bicara cinta. Cinta itu tidak ada. Bagiku Cinta hanya kata-kata pengindahan,yang suatu waktu bisa berubah. Dan ingat, kita hanya rekan kerja. Tak perlulah bermain pakai cinta.”
“sepertinya kau berbeda dari wanita-wanita sebelumnya yang pernah ku ajak tidur”
“hey, apakah aku kurang jelas? Kau tak lebih tampan dari Adam levine dan Danny. Jadi berhenti menggombaliku.” Kali ini aku tidak lagi menjulurkan lidahku. Agaknya pria ini sedikit berbahaya. Pandangan matanya mempunyai sinar berbeda. Teduh dan memancarkan cahaya. Membuat lawan bicaranya memaku pada satu titik di matanya. Itu artinya,aku harus lebih hati-hati.

***

Mata Pria didepanku ini masih saja menjelajah menu makanan, dari atas hingga bawah,lalu kembali lagi ke atas “Kau pesan apa?” tanyanya tanpa melirik kearahku sedikitpun.
“lemontea sama nasi goreng seafood”
“oke,disamakan saja” katanya pada waiters. Waiters itu menahan tawa saat melihatku terkekeh-kekeh didepan pria berdarah Astralia tersebut. sebentar kemudian ia kembali berlalu menjalankan tugasnya.
“kau daritadi setengah mati mencari menu makanan, dan terakhirnya kau pesan yang sama? sungguh. kau ini bodoh atau apa?” Tawaku semakin pecah. Ia menepuk lenganku. wajahnya terlihat merona. Lebih tepatnya ia sedang menahan malu.
Menunggu pesanan yang belum disaji, aku mengajaknya berkenalan lebih rinci. Pria ini rupanya anak tunggal yang ditinggal cerai orangtuanya. Pantas saja hidupnya tampak semerawut. Dan rupanya ia juga ke Indonesia khusus untuk menemui ibunya. bisa kurasakan,pasti rindunya ke perempuan yang telah melahirkannya itu amatlah menggunung. Untuk jarak Indonesia-Australia, pengorbanan pria ini sungguh menakjubkan.
“Jadi kapan kau pulang ke Australia lagi?”
“aku seorang traveler. seminggu lagi aku berangkat ke thailand. Tak tau kapan ke Australia lagi”
“jadi tempat tinggalmu tak pernah menetap. begitu?”
pria itu menganggukan kepalanya. “pantas kau tak pernah menetap pada satu wanita” kataku menyindir.
“beberapa dari mereka pernah ku seriusi, tapi katanya aku ini diatas normal.” Aku mengernyit, sepertinya pria ini paham benar akan tanda tanya yang menggelayut di wajahku.
“mereka menyebutku Atheis.” Aku tersentak. Dahiku mengerut penasaran.
“kau tak percaya Tuhan?”
“aku bertuhan. hanya saja aku tak berada pada satupun jenis agama.” Dahiku semakin mengerut, Dan rasa penasaran ku pun semakin membubung.
“bukan,aku bukan penyembah pepohonan,jin,atau benda-benda keramat. Kau tak perlu takut begitu. Tuhan ku adalah Tuhanmu. Apapun agamamu,Tuhanmu itu juga Tuhanku. Sebagaimana, Tuhan itu satu. Bukan begitu?”
“apa kau atheis faktor keluarga?” aku masih mengerutkan dahi. Mungkin setelah ini aku akan benar-benar mengerut.
“Ayahku seorang jemaat disalah satu geraja di Australia. Setiap minggu ia tak pernah absen ke gereja. Begitupun ibuku. Dia pemeluk Islam. Memang ,beliau belum mengenakan jilbab,tetapi bisa kupastikan sholatnya hampir tidak pernah tinggal.” Tanda tanya dikepalaku semakin penuh. Sepertinya sebentar lagi ia akan meledak.
“jadi kenapa kau tak mengikuti salah satu dari mereka?”
“sudah kubilang Tuhan itu satu.”
“tetapi dalam hidup kau harus punya pilihan.”
“aku tak memilih salah satu dari mereka,itupun adalah pilihan.” Aku terhenyak. Diamku panjang.
Ia menyesap minumannya sebentar. “mereka bercerai gara-gara perbedaan itu. Mereka berlomba-lomba tentang ajaran siapa yang paling benar. Padahal sudah tertulis di masing-masing kitab, bahwa tuhan itu satu. Apa kau mengerti sekarang?”
“tetapi di dalam yang benar, masih ada yang paling benar. Itu sebabnya mereka berlomba mencari kebenaran tersebut . dan menurutku mereka tak salah. tak ada yang salah di dalam orang yang sedang mencari kebenaran.”
“cerita tentang kepercayaan. sampai pemilik kafe ini mati karna menua pun tak akan pernah kelar Fa. Segala yang ada di dunia itu misteri. Kita pun misteri. Bahkan Tuhan sekalipun.” ya pria ini memang benar, segalanya di dunia ini adalah misteri. Mengapa harus ada pelacur,mengapa aku berada di salah satunya, sepertinya itu juga adalah misteri. Sebab tak ada wanita yang ingin menjadi pelacur.
“omong-omong, wanita sepertimu percaya juga akan agama. Bahkan teramat sangat kulihat.” ia memainkan matanya. kali ini ia meledekku. Ah persetan. Setidaknya biar pekerjaanku seperti ini aku masih punya keyakinan. Sebab aku yakin, tak ada yang lebih menyedihkan dari mereka yang tak bertuhan.
“dari banyaknya wanita-wanita yang tidur denganku, kau sungguh berbeda. Ntah kenapa aku tak melihatmu sebagai seorang wanita penghibur. Bahkan aku tak yakin.”
“ayahku yang sejak lama kuanggap mati, menghamili ibuku dan tak menanggung jawabi perbuatan bejatnya, lelaki yang kucintai selama 5 tahun dan selalu mengumbar cinta padaku menghamili wanita lain. Dan tak lain adalah sahabatku sendiri. ibuku bukan berasal dari keluarga konglomerat. Ia hanya penjual jamu keliling. Sebenarnya aku bisa saja bekerja yang lebih baik daripada ini, tapi siapa yang bisa menduga pikiran orang yang depresi larinya akan kemana? Mungkin ini seperti yang kau bilang tadi. Misteri.”
“mendengar masalahmu aku seperti sedang tertimpa gunung. Berat sekali masalahmu. Apa kau butuh aku membantumu untuk memikulnya bersamaan?” bukannya mengiba,pria ini malah Menggoda. Memang dasar bajingan.
“oh tidak. Kau hanya akan menambah bebanku. Dari hidupmu yang penuh dengan ketidak jelasan,aku sudah bisa membayangkan.” Aku bergurau. Iya tertawa lebar,lalu menjitak telapak tanganku pelan.
“kau akan ikut denganku. kemanapun aku pergi, aku membawamu. ” kali ini ia mengedipkan matanya. rupanya ia tak jera juga menggodaku.
“apa kau tidak ingat bahwa kau bukan Adam levine ataupun Danny the script? Jadi berhentilah menggodaku. Tidak akan mempan.” Dari lubuk hatiku,sejujurnya aku mengharapkannya. Dan entah sejak kapan rasa ini tiba. Mungkin karena sekian lama aku tak menemukan lawan bicara yang asik. sementara ia selalu menghargai setiap apa yang aku bicarakan. Tetapi tidak. Aku tidak mau patah lagi. apalagi aku tau percis, hobbynya adalah main wanita. Sungguh aku tidak boleh menyukai bajingan ini. Tolong anggap dia pelanggan biasa wahai hati keparat. Aku tidak mau patah lagi. sungguh,jangan menyusahkan.

***

Aku membalut badanku dengan kain sutra yang terawang. Warna hitam memanglah warna yang paling eksotis untuk menaklukan lawan. ditambah dengan bibir yang sedikit kemerahan dan rambut yang terurai berantakan. Kalau sudah seperti ini, aku yakin pria manapun pasti tidak akan berniat punya iman untuk beberapa jam kedepan. Termasuk pria berdarah australia yang baru saja menuang bir ke dalam gelasnya.
“ini tuangan bir yang keberapa?” tanyaku berbisik tepat beberapa senti ditelinganya.
sudah kuduga. matanya membelalak,mulutnya sedikit menganga,tubuhnya berjeda seketika “kau...kau sungguh cantik, bahkan tak hanya cantik.” Ia tergagap. Sepertinya pria ini sudah tak lagi berdaya.
Aku membuat garis tipis dibibirku membentuk senyuman. kali ini aku yakin bahwa ia sudah tenggelam. Mungkinpun sudah sampai dasar. Sekarang saatnya memainkan jurus keduaku setelah tersenyum kubuat sebagai jurus pertama. Tanpa basa-basi, aku menjatuhkan tubuhnya ke ranjang. kutautkan lenganku pada lehernya yang jenjang. ku sapu-sapu dadanya perlahan hingga ia terangsang. Dan tentu saja, ia langsung membalikkan tubuhku keposisinya barusan. Sekarang kami bertukar. ia berada diatas dan aku tepat dibawah nafasnya. Ia mengendus-ngendus leherku dan aku memainkan jemariku ke wajahnya yang kotak. Kali ini wajah itu mendekat, ia memagut bibirku secara perlahan. Aku bisa merasakan bibirnya yang sedikit tebal mendarat dengan lembut di bibirku. Seperkian detik ia menariknya lagi, lalu menatap mataku penuh dengan keinginan. Ah, ia lah teman tidurku yang paling aku nikmati. Setiap sentuhannya adalah sensasi, setiap hembusan nafasnya yang menempel di kulitku adalah energi yang tak kutau efeknya akan masuk ke hati. ya mungkin ini maksud dari menikmati. Bermain pakai hati. ah sial! Mengapa jadi aku yang terjerat?
jemari pria ini mulai menyingkirkan tali hitam yang menempel dibahuku. Bibirnya menjelajah kesana. aku mengerjap-ngerjapkan mataku menikmatinya. Sepertinya favoritnya adalah bagian leher. Sebab ia tak pernah sebentar disana.
“sepertinya aku menaruh cinta padamu.” Bisiknya tiba-tiba. Aku pura-pura tak mempedulikannya. Meski kurasa hatiku berkata sama. lelaki itu melepas ciumannya. Kali ini ia menatapku serius. Sekali lagi, aku tetap pura-pura tidak mempedulikannya.
“berhenti! Aku benar-benar jatuh cinta padamu. Dan kau bukan pelacur bagiku.” sekejab tubuhnya menjauh dari tubuhku. Kini kepura-puraanku tidak bisa kulanjutkan lagi.
“percayalah. Kata-katamu itu akan berubah di kemudian hari.” aku menepis.
Ia menarik tanganku mendekati tubuhnya “berhenti berpikiran aku sama dengan lelaki-lelaki yang ada dihidupmu dulu. apapun yang kau minta untuk aku membuktikannya, bilanglah. Aku sungguh-sungguh.”
“aku seorang pelacur, kau bisa cari yang lebih baik. Apalagi kau seorang traveler.”
“justru karna kau seorang pelacur. Kau tak pantas terus berada di keadaan seperti ini. hiduplah denganku. Sungguh,kutukan akan datang padaku jika aku menyia-nyiakanmu.”
Seketika keadaan menegang,hawapun menjadi dingin bak secangkir teh yang tertimpa batu es besar. “besok adalah terakhir kita di bali, beri aku waktu memikirkannya sampai besok ya.” tuntasku menutup ketegangan. Pria itu menunduk. Wajahnya tampak kecewa. Setelah itu kehangatan tak lagi ada. tiba-tiba aku merasa seperti nenek tua yang tengah berada pada masa kadaluarsa. Seketika Ia tak menyentuhku lagi. Tak sedikitpun

***

Semua barang sudah selesai disusun. Aku dan para teman-teman jalangku duduk di sebuah cafe sembari menunggu para lelaki itu bersiap-siap mengurus kepulangan kami.
“hey para bitches, bagaimana dengan mangsa kalian. Adakah hal yang lucu ketika kalian menjeratnya?” Sela bersuara duluan seperti biasa.
“dia tidak pandai memberikan ciuman yang hebat.” jawab Rika.
“aku cukup puas.” Sambarku. Iya. cukup adalah kata yang paling tepat, sebab kami berhenti pada kenikmatan yang hampir mencapai puncak. Dan kurang ,tidak adil buat dia yang telah membuatku terbius hingga kepayang.
“dan,aku pura-pura orgasme karna permainan si bodoh itu sangat buruk.” Kali ini Soffi yang menyambung. Ia memanyun.
Kami tertawa sampai terbahak. Beberapa pengunjung cafe menoleh ke arah kami. Dan seperti biasa ,kami tak pernah menghiraukan siapapun di sekitar kami. “sungguh itu hal konyol! Nanti kuhadiahkan dia buku bermain dengan baik” Sela mencibir. Kami kembali tertawa memecah suasana cafe yang dimana para pengunjungnya,lebih pantas untuk dijadikan patung.

***

jakarta tampak mendung. Padahal pesawat kami baru saja mendarat. Melihat kondisi langit,kecil kemungkinan untuk hujan tidak jadi datang.
“kau membawa payung?” pria itu hampir saja menjatuhkan jantungku dengan menepukkan sebelah tangannya kepundakku.
“oh tidak...”
“apa kita akan berpisah disini?”
“ya,sepertinya begitu.”
“apa kita akan bertemu lagi?”
“ya itu bagaimana denganmu,kau tinggal datang ke tempat awal kau menemukanku.”
“maksudku,apa kau akan ikut denganku seperti apa yang kutanyakan pada malam itu?”
Mendadak dadaku tersedak ,lidahku mengelu. Memikirkan hal ini,kurasa 24 jam pun, belum tentu cukup untukku. Berada dalam kebimbangan memanglah hal yang paling sulit untuk dijabarkan. Apalah lagi ditodong dengan pertanyaan. perihal cinta,sepertinya aku memang tidak pernah siap. Mungkin lebih tepatnya tidak pernah ingin. “maaf aku tidak bisa. Percayalah kata-katamu akan secepatnya berubah saat kau sudah tak lagi berada di Indonesia.” Hatiku menciut. Setelah ini pasti ia akan uring-uringan.
“kuakui aku memang sudah tidur dengan banyak wanita. Tapi ini jatuh cinta. Beda perkara. Apapun demi kau menemani hidupku, akan aku lakukan fa. Kumohon Percayalah.
mataku memberat. Sepertinya air yang terbendung didalamnya kian memberontak. “untuk seorang pelancong sepertimu,dan untuk orang yang berprofesi seperti aku. percayalah bahwa cinta tidak pernah ada .maafkan aku dave. Aku tidak bisa.” Aku menghela napas panjang. Kali ini aku mengigiti bibir bawahku dalam-dalam. Memawangi, agar hujan dari mataku tidak jadi datang.
“baiklah aku tidak akan memaksa. terima kasih telah membuatku jatuh cinta. Kau tahu,dengan aku jatuh cinta, kau telah mengingatkanku akan caranya melindungi wanita.” Ia menghela napas sebentar “Oh ya Fa, besok aku sudah tak lagi di Indonesia. Mungkin ini bisa jadi hari terakhir kita berjumpa.”
“kuharap tidak. Kuharap aku bisa bertemu lagi denganmu.” Pria itu melayangkan tangannya ke rambutku, ia menyapunya sambil tersenyum seakan menyetujui permintaanku. setelah itu,kakinya bergerak menjauhi tubuhku kearah taksi. seketika, ia menghamburkan tubuhnya ke dalam mobil sedan berargo itu. Ia membuka setengah kaca jendelanya. Tangannya melambai-lambai diambang jendela menujuku. Dengan hati yang berat,aku memaksa bibirku untuk tersenyum seraya menahan air dimataku yang sudah memaksa untuk jatuh. sekejab saja mobil itu langsung melesat. Lengan pria didalamnyapun mengecil dan tenggelam. Aku menitik. Seketika hujan datang mengasihaniku. Hujan menyambut kesedihanku. Ia berkonspirasi dengan hatiku. Kini aku bebas menitik.

***

Apa waktu sudah berputar? mengapa aku masih tetap pada satu keadaan. Tak mundur,dan tak maju. Memaku, memangku rindu. Ah pria Australia itu sepertinya memeletku dari tempat tinggalnya yang ntah berantah. Sejak ia menguap dari Indonesia, waktuku seperti di hentikannya khusus untuk ia berlari-lari di dalam kepalaku.
“sudah kubilang jangan jatuh cinta. Pesta dibali semalam harusnya kau yang kalah. Sebab kau dikelabuhi,bukan mengelabuhi.” Kali ke-sepuluhnya sela berhasil menebak isi kepalaku.
“kami sama-sama mengelabuhui kok.” Aku menampik.
“dasar pelacur bodoh. Jangan harap wanita seperti kita itu ada yang menyeriusi. Kita itu hanya untuk dinikmati. Berhenti bermimpi!”
“ ya jangan bermimpi! Aku setuju dengan Sela.” Rika ikut menimpali. Tak lama kemudian Soffi mengangguk-ngangguk menaruh tambahan point untuk Sela.
“ingat ini sudah setengah tahun berlalu dan kau masih mengharapkannya? Dasar pelacur bodoh.” Sela menghujatku habis-habisan. Ya aku sadar niatnya memang untuk menyadarkanku. Tapi bibirnya memanglah bibir wanita-wanita pencibir. Yang mana, ia mau bicara apapun tetap saja terdengar ketus dan culas.
“oh ya mybitches...bagaimana kalau kita mengadakan taruhan lagi? sudah setengah tahun dan memang sepertinya teman kita ini butuh hiburan dan move-on.” Soffi mengusul. Tumben wanita ini tanggap. Seketika Rika dan Sela mengangguk cepat. Mata mereka benderang. Untuk masalah taruhan,kami memang tidak pernah tidak antusias.
“oke...kali ini liburannya ke Singapore. Bagaimana? Siap untuk kalah?” Rika menantang. kami mengangguk serempak. Sela dan Soffi tampak semarak ,namun aku sekedarnya.

***

“kali ini aku dapat ikan salmon yang paling lezat.” Lagi-lagi sela memandu dalam taruhan kali ini.
Rika tampak penasaran. “wow!! Apa seorang pengusaha?” kepalaku masih menunduk. Lagi-lagi aku belum menemukan mangsa. dan ntah mengapa kali ini aku benar-benar tak bersemangat. Ah persetan.Aku merindukan pria yang seharusnya sudah jadi milikku. ternyata benar kata dia. “seharusnya” kata ini memang menyebalkan,hanya membuatku berandai-andai.
“anak pejabat bitches.. sepertinya aku memang ditakdirkan sebagai pemenang.” Sela terkikik.
“sial! Dasar bitch!” Soffi mencibir.
“aku menyerah. Aku mau besok kita sudah berada di Singapore.” Lenguh dan pasrah. Beginilah keadaan seorang yang ditinggal cintanya.
Teman-temanku membelalak. Mereka setengah tak yakin dan setengah mengerti, bahwa aku memang sedang benar-benar patah hati.
“ah kau ini payah sekali. belum juga diusahakan. tapi yasudahlah. Yang penting kita liburan. Capai juga bermain dengan ranjang dan lele-lele tua.” Kali ini mulailah sela membuka layanan C3. Curhat,cibir,sampai capai. Aku kembali mematung. Ntah kenapa belakangan ini aku tak bisa baur.

***

Kepala Singa memanglah pahatan yang tidak asing lagi bagi setiap manusia yang pernah melabuhkan dirinya ke Singapore. Kali ini aku tak berdampingan dengan sesiapa. Dan ini kali pertamanya aku tak kisruh perkara aura-aura kecantikan tak nampak,atau tak berdaya tarik atau apalah itu. Ah aku tak peduli. Kini Aku ingin benar-benar menikmati kesendirian. tanpa melayani siapapun. Masa bodo lah dengan teman-temanku yang bercumbu didepanku. Hal seperti itu sudah penuh dalam rekaman lensaku.
Menjelang senja,rupanya Singapore tampak semakin indah. warna jingga menaungi seluruh bangunan-bangunan di kota yang namanya serupa dengan negaranya itu ; Singapore. Beberapa burung tampak akan pulang kembali kesangkarnya. Ah,sepasang burung merpati memang selalu berhasil membuat manusia terperangah iri kepadanya. Kemanapun betinanya ,sang jantan pasti mendampinginya. Kemanapun. Seketika aku ingin menjadi merpati. Capai juga hidup sendiri tanpa ada yang menjaga,mengasihi dan menyayangi. Sekajap aku teringat pria Australia yang tak pernah melesat dari pikiranku itu. Kira-kira apakah dia sudah berkeluarga? Terlintas pertanyaan gila ini dalam kepalaku. Jika sudah,sepertinya menjadi pendonor jantung adalah cara mati yang paling mulia.
“hay jangan melamun.” Seorang perawakan besar menepuk pundakku pelan. Aku terkejut sebentar. Ku perhatikan dari wajahnya,sepertinya ia tampak asli berkebangsaan Singapore.
“kulihat kau dari tadi melamun saja. aku Dyas. apa kau wisatawan?” tanyanya yang masih menyadarkan lamunanku.
“Fani. Iya aku wisatawan. Kau asli orang kota ini?” kataku bertukar pertanyaan.
“iya,aku lahir disini dan sampai sekarangpun tetap menetap disini. apa kau sendiri saja?”
“tidak. Aku bersama teman-temanku. Hanya saja mereka sedang sibuk dengan dirinya masing-masing. biasalah, namanya wisatawan.”
Pria berbadan besar ini tampak hangat. Ia bercakap seakan bersenandung. Suaranya tidak sama sekali jelek. Sepintas terdengar mirip Glen Fredly, salah satu penyanyi favorit di Negeriku,Indonesia.
“oh kalau begitu mari mampir ketoko ku. Disana kau bebas memilih kue apa saja yang kau ingin. Hanya dua puluh langkah dari sini kok.” ia menjulurkan tangannya seraya mengacungkan jari telunjuknya ke arah pandang mataku. “nah,kau bisa lihat jendela coklat itu. Ya disitulah toko kecilku.”
“oh boleh. Kebetulan aku belum makan dari siang tadi.” Sepanjang jalan hingga kue sudah dihidangkan,pria ini menemaniku berbicara. Ia adalah pemilik toko ini rupanya. Asistennya sudah dua pula. ah pengusaha muda. mungkinkah aku menggaitnya? ‘halo dyas,pekerjaan ku adalah sebagai penghibur,apa kau ingin?’ oh sungguh ini kalimat menjijikan. Tidak! Setidaknya di negara orang aku harus menjadi wanita yang dipandang baik. Persetan dengan pekerjaan. Tohnya aku liburan memang niatnya untuk menikmati kesendirianku.
“lain kali mampir lah lagi kesini. Untuk wisatawan asia aku selalu memberi diskon.” Ia menggurau. Untuk pria sehangat dia,sepertinya wanita manapun akan betah berada disampingnya. Terutama menjadi sahabatnya. aku melempar senyum sehangat mungkin kepadanya. Seakan besok aku akan benar-benar kembali ke tokonnya.

***

langit telah menghitam. Lampu-lampu berpaparan menyirami ruas-ruas jalan. ini adalah kali pertamanya aku bermalam di kota orang seorang diri. ya beberapa tahun sebelumnya,berdua. Dengan pelangganku tentunya. aku ingat betul. Kala itu aku masihlah pemula. Itu adalah kali pertamanya aku memenangkan taruhan dengan mendapatkan pengusaha muda. Ryan, ah aku pernah menaruh cinta sepertinya dengan pria itu dulu. pengusaha muda yang jemarinya sangatlah pandai menari-nari diatas senar gitar. Entah aku sekedar kagum atau jatuh cinta padanya saat itu. Namun yang jelas aku sempat merasa kehilangan sosoknya semenjak ia berpindah kota. Akan tetapi tetap saja tak semerana dengan aku kehilangan Dave. Sial! pria itu memang selalu ikut campur dalam bagian cerita manapun.
kali ini kakiku membawaku ke dasar kota. Beberapa tempat terlihat ramai. Namun dari semuanya ada satu tempat yang paling ramai. Kebanyakan mereka sedang bersorak-sorai. Bukan. itu bukanlah perkelahian adu domba atau pencurian yang tertangkap basah. Aku bisa mendengar bunyi suara petikan gitar yang berpusat dari sana. sepertinya itu pertunjukan band atau sejenisnya.
Didalam kesendirian yang tak bertujuan, aku membaurkan tubuhku kesana. kebanyakan pengunjungnya seperti telah saling mengenal. Sepertinya acara ini tidak baru sekali diadakan. melainkan sudah berulang-kali.
“hay,wanita asia...” Dyas. pria yang satu-satunya orang yang ku kenal di negara asing ini. itupun baru saja terjadi beberapa jam sebelumnya. Dia disini juga rupanya.
“oh ya,kau masih saja mengenaliku.”
“tentu. Lihatlah bajumu. Kau belum menggantinya.” Ia terkekeh setengah meledek.
“oh ya...aku belum sempat pulang ke hotel sedari tadi. Kau sendiri saja?”
“tidak. Teman-temanku banyak disini. ini adalah festival musik yang hampir setiap bulannya di gelar disini.”
“oh begitu ya... keren juga. apa kau datang sendiri ke acara ini?”
“tidak. Setelah kau mampir ke toko rotiku, teman ku david baru saja sampai ditokoku. Oh iya,dia juga wisatawan sepertimu. Hampir satu tahun kami tak berjumpa. Anak itu kerjanya jalan-jalan saja. omong-omong mari kita duduk di sana” pria itu melayangkan jarinya ke arah belakang panggung. “disini terlalu berisik.” Ia beralasan.
Seperti awal berjumpa, pria perawakan besar ini memang sangat asik di ajak bercerita. sedari tadi kami bertukar cerita tentang negeri yang kami junjung tinggi. Tentunya negeri tempat masing-masing kami dilahirkan dan dibesarkan. Indonesia dan Singapore. cerita itu rupanya semakin melebar dan menjadi percakapan yang meyerukan.
“Yas... Yas...” suara seorang lelaki memanggil-manggil nama Dyas dengan berat. Asal suaranya terdengar tepat di belakang punggungku. Dyas yang berada di depan mukaku tersenyum meriah menyambut kawannya itu. Aku menoleh kebelakang penasaran.
Sekejab suara musik berhenti ditelingaku. Ya hanya di telingaku. Dengan mereka,aku tidak tahu. Aku menepuk pipiku keras. Kuharap aku sedang tidak bermimpi.
“Fa...kau kah itu?” mata pria itu membelalak. Tubuhnya tampak menegang.
“da..dave?”aku tergagap, dan tak kalah tegang.
“ah...kalian saling mengenal?” Dyas menyambar. Memecah ketegangan diantara kami.
aku menjawab pertanyaan Dyas. “iya ,sepertinya aku masih mengenal”
“ah Fa, berarti kau hampir melupakanku? Kejam sekali.” pria yang telah lama kurindu itu memelas .
Dyas mengambil inisiatif “ya...ya...ya... tampaknya dulu kalian sempat saling dekat. Biarkan aku pergi sebentar untuk kalian melepas kerinduan ya.” pria berbadan besar itu memang pandai mengartikan situasi. Aku dan Dave tersipu.
Pria itu masih menatapku setengah tak percaya. matanya teramat cerlang, seperti baru saja memenangkan taruhan dolar. Tampaknya akupun demikian.
“fa...oh tuhan. sungguh aku tak percaya bisa bertemu denganmu disini. kau harus tau,kalau aku terus merindukanmu.”
“ah kau ini. apa kau tak ingat kau itu tak lebih tampan dar...”
Dave menyerobot kalimatku “Adam levine dan Danny the script aktor favoritmu? Ah persetan! Akulah yang sekarang berada dihadapanmu. Dan jangan lagi bilang ini gombalan. Kumohon.”
Aku terkekeh “kau masih ingat saja. namamu David? Aku baru tahu.”
“iya. Hanya aku lebih suka dipanggil Dave. Kedengarannya lebih ringan.”
“eh iya... omong-omong apa hidupmu masih penuh dengan ketidak-jelasan?” aku meledek.Pria itu tertawa besar.
“ketidak-jelasan yang mana?” tanyanya setelah tawanya mereda.
“pekerjaanmu,agamamu dan... wanitamu.”aku tergagap di ujung kalimatku. Jantungku bergetar-getar. aku menyiapkan tempatnya untuk terjatuh kalau-kalau aku mendengar pria ini sudah melepas masa lajangnya.
“sialan! Kau masih mempersoalkan itu rupanya. Pekerjaan ku masih tetap. Agama... ah aku belum mengerti. Oh ya...wanita... belum. Habis,kau tak mau denganku.” Aku menghembuskan napas panjang. akhirnya aku masih punya kesempatan. Batinku. Mendadak pria itu menajamkan matanya kearahku. “dan bagaimana denganmu? Apa kau sudah berkeluarga?”
“tidak... aku menunggumu.” Aku tergagap. Sepertinya hatiku sudah tak tahan untuk terus menahan rindu dan kepastian lebih lama lagi. ia ingin benar-benar dimiliki rupanya.
“Fa... aku berharap itu tadi bukanlah gurauan. Sungguh tidak lucu Fa.”
“aku menunggumu Dave... setiap hari. aku tak ingin berbohong lagi.” Dave tercengang. Pria itu menatapku dalam-dalam “Dave,aku jatuh cinta padamu. Sejak kau meninggalkanku,aku merasa kehilangan.”
Sekejab Pria berdarah Australia itu mendekapku. “Fa,kau harus tau. setelah aku meninggalkan Indonesia,aku tak lagi tertarik bermain wanita. Pikiran dan hatiku berkonspirasi untuk selalu memikirkanmu.” Ungkapnya berbisik. “kau merubahku Fa.” Pria itu masih mendekapku. Kali ini lebih erat.
“apa kau akan melamarku?” aku melepaskan tangannya yang memagari tubuhku secara perlahan. Sekarang jemarinya mengambil daguku. Menengadahkannya ke wajahnya yang lebih tinggi diatasku beberapa inci.
“tentu. Secepatnya aku akan melamarmu.” Katanya menatapku dalam.
“tapi aku tak siap dengan keluargamu. Kau tahu profesikukan?”
Pria itu tersenyum sebentar “apa bedanya kau dengan aku fa? sebelum bertemu denganmu ,aku adalah pria tukang sewa perempuan. Kedua orang-tuaku juga mengetahuinya. Semenjak mereka berpisah, semuanya berantakan. Aku tak pernah ingin tinggal satu atap dengan salah satu dari mereka. Itulah sebabnya aku memilih menjadi traveler. Dan itu juga sebabnya aku menenggelamkan emosiku dengan sex bebas. Lagipun setelah aku menjelang dewasa, aku sudah dibebaskan untuk menentukan pilihanku sendiri.” aku mematung sebentar. rupanya pria dihadapanku ini juga punya problema yang amatlah berat. tak salah bila terkadang aku memandanginya seperti aku bercermin. Ah iya…mungkin disinilah Tuhan menyadarkanku bahwa sesungguhnya aku tak sendiri. Dave pun demikian. Mungkin pula inilah jawaban atas ketidak-adilan yang selalu aku rengekkan padaNya.
Sebelum memulai bicara,Aku menghela napas panjang. “tapi aku juga tak mau jadi Atheis. Agama adalah pegangan dan aturan hidup Dave. Kau tidak bisa membuat aturan hidup sendiri. masalah kedua orang-tuamu,jika menurutmu mereka salah,cobalah kau perbaiki letak kesalahannya dalam dirimu. Sebagaimana Tuhan itu satu, ajarannya selalu benar. Kau hanya perlu mencari letak ketenangan dan kesiapan untuk menjalani dan memeluk salah satunya.” Dadaku melebar seketika, akhirnya apa yang bergejolak di dadaku keluar juga.
“aku tak meyuruhmu menjadi sepertiku. Tidak sama sekali” Ia menekan kata-katanya. Nadanya terdengar berat seperti sedang menahan emosi.
“Kau akan manjadi kepala keluarga Dave. Tentu saja kau yang akan membimbing aku nantinya.” aku menghela napas. Mengatur jeda sebentar. “aku tak menyuruhmu untuk masuk ke dalam ajaranku. Aku hanya ingin kau lebih jelas. Tentu kau tak bisa selalu membenarkan aturanmu sendiri. kau adalah manusia. Tempatnya kesalahan bersarang. Percayalah dave,setelah kau menemukannya, kau akan lebih tenang.”
Pria ini menundukan kepalanya. Aku berdoa supaya kali ini hatinya terbuka.
“fa...” ia memanggilku lenguh. Setelah beberapa menit aku dibuatnya mematung. “bantu aku menemukan kemana hatiku akan berlabuh di antara ajarannya. Dimana hatiku akan tenang disana. kau benar. Aku adalah gudangnya kesalahan. Aku mencoba menyelamatkan Tuhan dengan logikaku sendiri. namun pada akhirnya,aku tak betul-betul tahu arah pikiranku membawaku kemana. Mungkin benar kata mereka. Aku ini sesat.” aku terenyuh. Segaris senyum menyimpul dari bibirku dengan sendirinya. seketika air mataku turun menyusulnya. Sungguh ini adalah bahagia yang belum pernah aku rasakan sebelumnya.
“tentu dave,dengan lapang hati aku akan membantumu.” senyumku semakin melebar,sepertinya garis itu akan abadi di wajahku. “sesat kurang tepat Dave,mereka salah. kau hanya tersesat. tersesat karna benturan dari perceraian orang tuamu. Aku bisa merasakan itu.” Sekejab ,tangan pria ini telah memagari tubuhku. Di tengah keharuan,ia berkelakar. “kurasa aku sudah terlalu letih mencari-Nya dalam hidupku fa. Itulah sebabnya Ia mengirimkan iblis berhati malaikat seperimu.” Aku mencubit lengannya yang padat. tawaku meluap di dadanya yang masih bernaung dalam dekapanku.
“setelah ini aku akan pensiun menjadi iblis Dave. Tampaknya aku lebih cocok menjadi malaikat. Bukan begitu?” Ia Mendaratkan bibirnya ke dahiku. Menciumku penuh dengan ketulusan. Dengan mantap ia mengangguk kepalanya. Dan tanpa keraguan lagi, aku memeluknya.

***

*enam bulan kemudian*
“dave kini kusadar,Tuhan memang tidak pernah tega membiarkan umatnya sendirian.”
“fa,akhirnya aku percaya bahwa Ia memang akan mengirimkan bidadari yang akan selalu melindungi dan menyadarkan lelakinya.”
“apa kau sedang menggombal dave?”
“ah kau ini. Kau masih memperkirakan aku dengan adam levine dan danny the script? sekarang kau yang tidak akan mempan untuk menyuruhku berhenti menggodamu fa. Sekarang pangkatku sudah menjadi suami. Kau tidak bisa macam-macam.”
Dave menjitak kepalaku pelan. Aku mencubiti perutnya. Suamiku ini tertawa terpingkal-pingkal. Ya bagian perut adalah kelemahannya. Itu kuketahui ketika aku mencumbunya di malam pertama.
Kini kusadari pada Akhirnya kebahagiaan akan datang tepat pada waktunya. Dimana mengeluh dan menyalahkan-Nya hanyalah mengakrabkanku dengan kesia-siaan. Dave merubahku menjadi sosok wanita yang paling dihargai. bukan hanya sekedar dengan materi seperti pekerjaan di masalaluku. ya... setidaknya menurutku begitu. Dan akhirnya aku berhasil membantu priaku menemukan tempatnya bernaung di dalam satu keyakinan yang membuatnya merasa nyaman. Dan itu barusan saja ia katakan. kejelasan memang akan selalu membuat dada melebar. Namun sayang. hal itu belum terjadi pada tempatku tinggal. Pria ini masih saja bersikeras dengan pekerjaannya menjadi pelancong. Sehingga terkadang aku lupa kalau aku ini berkebangsaan Indonesia. Seperti sekarang,kami berada di China. Dan sebulan yang lalu di Kanada. Bulan depan entahlah dimana. Namun kuakui,nomaden adalah hal yang mengasyikkan. Aku tidak hanya tahu,namun mengenal apa saja ragam,bahasa dan ciri dari sebentar-sebentar tempatku tinggal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

tinggalkan komentar setelah membaca